Aku dan perempuan Emas

|

Dia menambahkan gelasnya ke peminta itu dengan tangan penuh permata, memenangkan senyum menawan dilepaskannya juga seuntai gelang dari mendukung untuk dibagikan. Tak berapa lama perempuan dengan kebaya robek itu pergi membawa emas yang tak pernah ada dalam pikirannya selama ini. Dan juga dengan senyum-senyum yang tak berhasil didukung untuk dikembangkan dari bibir tuanya. Tanpa terasa airmata perempuan bergelang emas menetes, bahkan menjurus deras. Dihatinya menjawab pertanyaan yang tidak pernah kunjung muncul menjawab.

Entah apa pertanyaan sebenarnya yang sering muncul dan tanya mengapa. Apakah karena begitu harga makanan di pasaraya atau supermarket melonjaknya yang menunjukkan kenaikan atau apa? Karena semua yang selamat itu tidak akan pernah terasakan, lalu yang selamat dari konglomerat dengan harta yang tidak akan pernah habis sekian juta orang dalam 100 tahun. Ataukah karena kurangnya hiburan bagi dirinya? Dia juga menggelengkan kepala seraya berbisik "tidak!". Iya .. Karena semuanya hal di dunia ini bisa dibelinya.

Kebahagiaan perempuan tua berkebaya robek dan kesedihan perempuan bergelang emas, begitu paradoks dan ironis. Dalam pijakan kaki, manusia melambaikan diri demi kegemerlapan dunia yang pasti tidak dibawa mati. Dan dalam pijakan nurani, manusia tak pernah lepas untuk terus mencari kebahagiaan hakiki untuk dibawa mati. Begitupun aku, sebagai penggembala yang hidup di kota metropolitan yang setiap pertemuan berkacak pinggang sembari meneriakkan kesombongannya, terus menerus meretas kepingan demi kepingan hasrat untuk terus bergerak dan bahagia. Tidak lagi mencumbui diri sendiri dengan kesenangan sesaat. Sebelum sketsa perempuan tua berkebaya dan perempuan bergelang emas itu menusuk diriku lewat anak-anakku atau cucuku kelak.

Depok, 2009

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar