Keritik itu (tidak) Membangun

|

Kemarin hari seorang teman mengunjungi sebuah kafe yang juga masih milik dari temannya sendiri. Rencananya melakukan rapat untuk pekerjaannya. Mungkin karena ekspektasi yang berlebihan, dia sedikit kecewa dan melontarkan beberapa kalimat dengan niat untuk memberi masukan bagi keadaan kafe tersebut. Dari tulisan yang dia unggah ke twitter, sangat terlihat bila niat temanku ini sangat baik. Dia memuji yang patut dipuji dan mengatakan kurang pada yang memang kurang dengan memberi beberapa hal yang memang itu bagus untuk dilakukan oleh teman pemilik kafe.

Ternyata, efek dari tulisannya di twitter menjadi besar. Besar bukan karena efek social dari twitter tersebut. Namun besar dari pemilik kafe itu yang langsung membesar-besarkannya. Dia menyerang pengritiknya itu, di sebuah milis yang memang menjadi komunitas mereka bersama dengan keras diimbangi dengan arogansi karena merasa sudah hidup lebih lama di milis tersebut dan sementara pengritiknya baru seminggu gabung dimilis yang disebutnya milis mulia itu (mungkin melebihi mulianya manusia itu sendiri).

Kenapa besar bukan dari efek social media? Karena sejatinya, level dari Kafe tersebut masih biasa saja belumlah dikenal banyak orang, baru segelintir orang dan itupun sebagian besar adalah anggota milis semata, nasional pun belum masuk apalagi internasional. Pemilik kafe kurang waspada, bahwa mereka besar karena fluktuasi milis belaka bukan karena kehebatan atau kepandaian mereka melakukan strategi pemasaran. Kecenderungan merasa sudah hebat dan besar seringkali menutup hati dan lebih suka cara puja-puji semata. Puja-puji itu alat pembunuh paling kejam, ibarat membunuh dengan mengiris pelan-pelan leher anda.

Apa benar imbas dari sosial media bisa menghancurkan kafe mereka? Salah seorang pakar sosial media yang masih teman dekatku mengatakan, bahwa ada 5 hal yang bisa menghancurkan sebuah brand. Dan dari kasus ini menurutnya belumlah bisa menghancurkan itu. Salah satu pasal yang bisa menghancurkan brand adalah pasal “It’s All About Me”. Dimana seseorang merasa aman menjadi pusat perhatian. Ketika pemilik Brand lebih cenderung untuk suka memposting tentang “Betapa hebatnya produk kami”, “Dahsyatnya perjalanan karir kami” dan seterusnya. Self Centered ini adalah penurunan, sebab pada akhirnya apapun kritik tidak bisa ditanggapi dengan pikiran tenang, yang muncul hanya emosi dan ketakutan (ego is me). Padahal hukum konsumen mengatakan bahwa PEMBELI ADALAH RAJA, jadi sangatlah sah untuk mengatakan apapun dimanapun. Bahkan mencaci-maki sekalipun. Sejatinya, pembeli lebih suka untuk diajak terlibat, dijawab dengan bijak, dijadikan pasangan untuk saling melengkapi. Dengan segala macam tingkahnya.

Lebih disayangkan lagi, arogansi pemilik kafe berlanjut dengan mengatasnamakan “kasta”. Apa sih kasta itu? Apakah mereka lupa bahwa dimata Tuhan semua sama?. Belum tentu para pengusaha berbaju keren dan selalu mengatasnamakan diri “Mulia” itu lebih baik dari para penarik becak dipersimpangan jalan. Kasta atau status sosial apapun itu buatan manusia yang dimaksudkan untuk melanggengkan (nafsu) kekuasaan segelintir orang. Sekedar ketakutan orang-orang untuk tidak jatuh dari tempat duduknya masing-masing. Terkadang emosi sanggup mengalahkan kewenangan Tuhan, dan kasta adalah urusan Tuhan bukan manusia.

Aku sendiri bukan orang baik, banyak hal dan kesalahan yang telah (mungkin terus) aku perbuat. Namun sebaik-baiknya teman adalah Teman yang berani mengatakan jujur apa adanya. Dan aku rasa pemilik kafe sudah kehilangan satu teman yang sangat baik, yang bukan tidak mungkin akan berpengaruh kepada teman lain. Pada ujungnya, banyak teman takut memberi masukan yang akhirnya membiarkan saja apa yang dilakukan temannya. Tuan, sikap menerima apa adanya teman adalah keindahan dalam menata ikhlas. Mohon disadari itu.

Temanku yang mengkritik itu adalah salah satu pengelola (CEO) situs share file terbesar didunia, yang tentu kita semua kenal yaitu 4shared.com, pendapatan perusahaannya (dalam hitungan saya) 10x lipat dari pemilik kafe tersebut. Jadi yang dimaksud kasta itu seperti apa? Mari belajar dengan baik untuk saling mengenali.

BILA ANDA INGIN HIDUP MENJADI LEBIH BAIK DAN TERUS BERUSAHA MENJADI LEBIH BAIK, PERHATIKAN MUSUH ANDA. APAPUN BENTUK CACIAN DAN MAKIANNYA TERIMALAH DENGAN BAIK. KEHADIRANNYA AKAN MEMBANTU ANDA UNTUK INTROPEKSI DIRI LEBIH CEPAT. DAN KRITIK MENJADI MEMBANGUN ATAU TIDAK, DIRI SENDIRILAH YANG MENENTUKAN.

Salam kreatif.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar