Nilai Rata-Rata

|

"Alhamdulillah, nilai ujian anakku rata-rata 8 dan dia peringkat 1 dikelasnya", Kata seorang Ibu ke tetangganya. “Iya, gimana ya Bu biar anak saya juga bisa punya nilai yang bagus seperti itu? Kursus dimana sih? ”, Sahut tetangganya.

Sepenggal cerita tersebut dalam bergulirnya bola dunia terjadi berulang-ulang. Dari mulai era manakala kenormalan pendidikan mulai ada dan mudah direngkuh oleh banyak orang. Para kaum tua, berebut dan mempermasalahkan manakala anak-anak memiliki nilai yang jeblok. Asumsi yang muncul adalah anak harus pandai, dinilainya harus baik, dan berbagai macam argumentasi yang pada intinya adalah nilai sang anak harus diberi nilai bagus.

Untuk meningkatkan nilai anak, perlu disetujui untuk membantunya belajar. Entah dengan kursus atau pun les pribadi, jadi langsung menambah porsi otak anak dan juga langsung mengurangi porsi otaknya untuk bermain dan mengelola lingkungannya dengan baik. Secara tidak sadar, diputar telah merampas hak bermain anak-anak.

Nilai bagus dan rata-rata masih menjadi acuan, sebisa mungkin anak tidak boleh memiliki nilai berdasarkan 6. Apa argumen yang perlu dibuat pemakluman dan alasan untuk membuat anak menjadi lebih suka orangtuanya atau kekurangan orangtuanya di masa lalu. Disinilah muncul hukum Borgol. Banyak yang menginginkan ketidakbisaan atau cita-cita yang diinginkannya tidak teraih kemudian dialokasikan dialokasikan pada anak-anaknya dengan tanpa sadar. Tanpa sadar pula anak sudah menjadi sebuat peta replika dari kesadaran.

Namun, keheranan akan muncul manakala suatu hari sang anak yang sudah belajar di sekolah, les tambahan setiap sakit dan belajar setiap malam masih memiliki nilai buruk. Dalam benak orangtuanya, lebih sering muncul pikiran, “Aduh anakku kurang belajar dimananya ya ?, apakah gurunya kurang bagus ya? Apakah lesnya kurang ya?

Maka jawab dari itu adalah, orang tua yang kurang belajar akan kemauan sang anak, orang tua juga kurang bagus dalam memahami percakapan psikologis dari sang anak. Orang tua tidak bisa bertanya kepada anak, apakah dia meminta dengan lesnya atau mungkin menyediakan porsi bermain yang cukup. Nilai harus bagus di semua pelajaran. Belajar anak harus belajar dan harus pandai di semua pelajaran. Lebih baik 8 nilai dari 10 nilai juga nilai 3 di nilai ujiannya.

Berikan waktu bermain yang cukup untuk anak-anak, berikan kenyamanan belajar secukupnya kepada anak-anak. Biarkan dia mulai belajar memutuskan apa yang menjadi keinginannya. Karena apa pun yang salah membentuk “tidak beres” adalah tanggung jawab utama, bukan tempat dimana dia menuntut ilmu.

Bila Anda mencermati fenomena anak-anak jaman sekarang dari segi fisik, lihatlah, mereka terlihat lebih cepat dari usianya. Maka jangan lupakan masa kanak-kanak, dan jangan biarkan penuaan dini pada anak-anak. Jangan pula mengestafetkan "Borgol" ke dalam mental dan pikiran anak-anak kita. Anak-anak bukan ajang gengsi untuk uang, namun sumber ibadah yang baik untuk uang.

CUPLIKAN: STEVE JOBS, BILL GATES, RICHARD BENSON DAN HAMPIR SEMUA ORANG TIDAK MEMILIKI NILAI RATA-RATA TETAPI MEMILIKI SATU NILAI YANG MENARIK DAN TERUS MEMPERDALAMNYA, SERTA TIDAK BELAJAR SEMUA HAL.

Aku sayang kamu anak-anak.

Cinta itu kuat dan baik, tetapi juga mesin pembunuh terbaik.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar