Sudut Pandang Kebebasan

|

Manusia, mengingat oleh manusia lain dari tindak tanduknya atau biasa disebut banyak orang adalah tindakannya. Bila “tindakan” ini diambil secara luas dalam penilaiannya, maka sudah barang tentu akan sangat luas segi penilaiannya. Misal, tindakan dalam hal sehat atau tidak sehat, apakah sakit jantung, pencernaan atau pun peredaran darah. Semua yang sesuai dengan ilmiah akan dilakukan oleh dokter dan disebut sebagai medis. Ada pula yang berfikir tentang keindahan atau tidaknya, seperti keindahan wajah seseorang, keindahan tulisan seseorang atau juga keindahan pertemanan yang ada. Semua yang ada di sini membahas tentang dasar-dasar estetika atau falsafah keindahan berdasar.

Sekecil apapun tindakan manusia selalu akan menimbulkan tantangan, apakah baik atau buruk. Dalam hal ini, sudut pandang atau cara pandang dari setiap orang akan berbeda satu sama lain. Jika tindakan manusia menentang baik-buruknya, maka seakan-akan sudah keluar dari koridor manusia. Karena memilih atas dasar pilihan sengaja atau tidak sengaja. Maka akan segera muncul pembahasan yang tidak mudah untuk dijelaskan, karena akan dikembalikan pada aspek sudut pandang. Ketika manusia berusaha untuk memilih antara mengikuti alur atau kehendak yang melewati aspek determinus bebas. Benarkah manusia benar-benar memiliki kehendak bebas? Benarkah ia sudah benar-benar memilih jika melakukan tindakan ?. Dalam perilakunya, tindakan manusia yang dilakukan oleh pihak atau pihak lain akan dilakukan. Maka bebas sama dengan tidak ada. Kehendak bebas itu tidak ada. Banyak falsafah yang bertukar pandangan tentang kehendak bebas yang ada. Dari jaman Plato hingga pasukan Nato di jaman sekarang, pertentangan pendapat tentang kebebasan masih menjadi diskusi yang menarik.

Pada dasarnya, manusia memiliki determinasi (pengingkaran) dalam hal kebebasan. Yang menentukan dalam dewasa ini adalah 1. Determinasi Materialis dan 2. Determinasi Religius.

Materialisme ada berragam coraknya, namun menjawab semua menerima dalam bentuk yang ada atau yang sungguh-sungguh ada. Seperti uang, rumah, mobil dan sejenisnya. Yang dibahas dengan Materi adalah sesuatu yang tidak tetap atau selalu berubah-ubah. Seringkali Materialisme dalam perspektifnya terhadap dunia dan alam seisinya hanya sebatas menerima dunia dan alam seisi yang terlihat. Benda-benda alam ini, dalam tindakannya semua ditentukan oleh hukum alam dan hanya hukum alamlah sesuatu yang manusia tidak bisa sedikitpun menyangsikannya. Karena sejatinya manusia juga merupakan benda yang ada di alam yang juga hidup di dalam alam. Manusia sebagai benda alam juga merupakan mesin atau robot * (yang barangkali lebih rumit dari benda apa pun), yang bisa disiapkan bangun, tidur dan makan. Seperti halnya matahari yang berganti dengan bulan secara teratur hingga memunculkan aliran waktu, dari pagi, siang, sore dan malam. Bila ada sesuatu yang belum pasti dalam kajian perumusan sebuah ilmu, itu hanya karena “belum”. Karena pada dasarnya semua sudah disediakan oleh alam seisinya. Dan saat semua ilmu bisa menemukan semuanya, maka akan muncul sebuah hukum yang mengikutinya. Kata pendek, manusia tidak memiliki kebebasan memilih. Itulah materialisme.

Ketika di ingat dalam hasil ilmu yang memiliki metode jitu, di dalam kiamat hingga teori Darwin, pendapat tentang materialisme di atas tentu saja tidak mengherankan. Tidak ada tindakan dalam diri manusia yang mampu mendorong untuk memilih, segala tindakan yang memungkinkan terdorong oleh karena materi. Tindakan yang Luar Materi Tidak Nyata atau Bahkan Tidak Ada !. Padahal materi itu juga tertentukan. Seperti yang di ulas oleh Feuerbach (tahun 1804-1872). Dan bahkan Marxisme, tindakannya ditentukan oleh pendapat di atas: manusia ditentukan oleh keadaan ekonomi.

Pertanyaan lain Determinisme Religius dalam menolak kehendak bebas manusia. Tentu dengan pendapat tentang ketuhanan yang selalu ada dalam diskusi religi. Sebaliknya Pancasila menerbitkannya di ayat pertama. Terkait Tuhan Maha Kuasa, maka tidak terbataslah wewenangnya, tidak ada yang bisa disetujui oleh kemauan manusia. Dan dalam religius manusia mengakui bahwa tingkah laku manusia sudah diatur oleh kehendak kuasa Tuhan. Dimana ada pula yang mengatakan bahwa manusia ada karena dosa yang diakibatkan oleh tindakan bapa segala manusia dari awal hingga ke akar-akarnya. Manusia hanya bisa berbuat dosa, tetapi tidak dapat kembali kepada Tuhan (tidak mampu melakukan baik) jika tidak ada bantuan dari Tuhan. Maka sisi religi melihat, untuk melibatkan baik, manusia tidak mempunya pilihan dan tidak mampu melakukan sendiri atau dari manusia itu sendiri. Namun ketika melakukan dosa, Tuhan tidak ikut campur di dalamnya. Namun demikian, dalam pilihan ini, manusia tidak akan mendapatkan yang sama, akan memilih yang sebenar-benarnya, dan memilih yang sebenar-benarnya.

** Dan sungguh Psikologi modern (atau ilmu telaah termuda) sampai sekarang pun masih terus menugasi diri untuk terus melakukan telaah atas kehendak bebas seperti mengulas di atas.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar