Hedonis atau keset??

|

Pukul 13.27 WIB tadi aku sampai sebuah hotel yang terletak di sekitar Pasar Johar. Tanpa ragu aku langsung saja masuk untuk check in karena badanku sungguh sudah letih sekali. Dua hari tidak tidur dengan nyenyak, hanya mencuri-curi atau memanfaatkan tidur saat berada di atas transportasi umum. Begitu tiba di depan meja resepsionis, yang pertama aku terima adalah pandangan curiga dari seorang laki-laki yang menjadi penerima tamunya. Kemudian saat aku bertanya apakah masih ada kamar yang kosong buat saya, juga tidak ada senyum menyambut pertanyaan saya. Namanya tamu, tentu merasa risih bila bertanya namun mendapatkan jawaban dengan gesture yang tidak mengenakkan. Namun karena aku butuh untuk secepatnya beristirahat dan malas berpindah tempat, maka apa boleh buat aku tetap bertanya berapa harga kamar yang masih ada. Setelah dia menjawab harga dengan penekanan deposit harus minimal sekian [mungkin dia berharap aku jadi mengurungkan niat] maka aku coba keluarkan uang dari dompetku, dan terjadilah hal yang lebih tragis lagi yaitu uangku benar-benar pecahan semua dari pecahan 1.000 hingga 20.000. Tidak ada yang berbentuk bulat utuh 50.000an atau seratus ribu. Maka makin tidak ada senyumlah resepsionis ini. Tapi dengan cuek aku tetap keluarkan saja, aku hitung di depan matanya pelan-pelan dan sangat pelan [sengaja].

Setelah beberapa saat maka terkumpullah dengan jumlah yang pas tidak tersisa di dompetku. Dengan sedikit cemberut resepsionis tetap berusaha untuk melayani. Dan aku sangat yakin dia sangat keberatan sekali. Tapi bodoh amatlah, yang penting kan uangnya pas. Setelah beberapa saat sebelum dia selesai melayaniku, tiba-tiba muncul dua ibu-ibu dengan dandanan parlente datang. Langsung terjadi perubahan 360 derajat dari muka resepsionis ini, dia langsung senyum lebar dan menunduk-nunduk melayaninya. Aku tersenyum simpul, dalam hati sebenarnya aku ingin tertawa keras melihat tingkah lakunya. Sangat jauh beda dengan saat melayaniku. Bagai bumi dibelah tujuh pelayanannya. Oh iya seingatku ibu-ibu ini berdua mengobrol dengan bahasa tionghoa, bisa jadi sebenarnya ibu-ibu ini mengetawakan si resepsionis ini hehehehe… Tapi biar sajalah mungkin memang sudah jadi karakter resepsionis ini atau bisa jadi memang sudah menjadi habitnya para pelayan hotel disini. Meski aku cuman penanak nasi biasa, toh labelku bukan pelayan hihihih… [Maaf sombong dikit].

Memang, masih begitu banyak ditemukan di belahan manapun orang hanya bisa memandang dari tampak luar. Meski harus diakui sangat sulit untuk bisa langsung menilai sesuatu ke dalam. Semua pasti berawal dari luar dulu, seperti juga halnya orang jatuh cinta. Selalu akan memandang wajah terlebih dahulu baru hati. Budaya menjilat atau bermuka manis di depan orang kaya rasanya masih begitu menjadi adat di Indonesia ini. Ukuran materi, ukuran pakaian atau juga ukuran penampilan lahiriah masih menjadi standar dalam menempatkan orang dari sudut pandang di hampir semua segmen masyarakat.

Harus pula diakui, untuk bisa belajar memandang segala sesuatu dari hati atau boleh aku bilang lebih ke dalam tentulah dibutuhkan pengalaman, lingkungan dan juga sisi pembelajaran yang terus menerus. Tidak bisa langsung jadi. Namun bukan berarti tidak bisa asal mau mengawalinya.

Mari teman-temanku, mulai sekarang kita belajar bersama untuk tetap memandang sesuai porsi bukan parsi. Tempatkan sudut pandang yang tidak terlalu memuja apalagi menjura, karena itu bisa jadi akan menjadi bumerang diri sendiri suatu saat.

Salam kreatif.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar