Monas Tourism

|

Hari ini aku mengikuti aksi hari anti korupsi yang memang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Begitu banyak elemen masyarakat dan mahasiswa yang berkumpul hingga susah sekali untuk mengingat-ingat nama-nama dari setiap kelompok. Yang pasti di media massa yang berbasis internet saya yakin sudah banyak yang memberitakannya. Aku tidak akan membahas nama-nama kelompok itu, hanya ingin sedikit mengeluarkan sedikit pendapat pribadi.

Seperti yang aku dan kawan-kawanku prediksi, Aksi pada hari ini lebih bisa dikatakan sebagai seremonial belaka. Tak beda sedikitpun dengan deklarasi atau peringatan-peringatan hari besar atau pun hari dunia lainnya. Agendanya hanya satu yaitu unjuk rasa. Sayang sekali, unjuk rasa anti korupsi namun tidak memuat tujuan lebih spesifik dalam mendobrak tabir gelap yang selalu menutupi kesalahan individu birokrat atau pun kelompok.

Semangat 98 sudah pudar dengan pelan-pelan tanpa terasa. Gedoran SBY dengan pidatonya di beberapa pertemuan formal tentang adanya “pembonceng” dalam aksi hari ini ternyata berhasil. Terlihat betapa masih banyak elemen yang selama ini aktif dalam kegiatan semacam ini tidak terlihat. Termasuk kawan-kawanku di Reformasi 98. Memang bisa dilihat betapa kesadaran orang Indonesia akan semangat anti korupsi sudah terlihat mulai meninggi, namun sepertinya itu dinodai dengan aksi beberapa orang yang mengikutsertakan anaknya dalam aksi ini, juga beberapa ibu-ibu yang terlihat sangat jauh dari pergulatan sosial atau politik dalam kesehariannya. Mereka lebih terlihat sebagai ibu-ibu yang untuk mencari makan saja tidak mudah.

Tidak bermaksud untuk mendiskreditkan sedikitpun aksi hari ini, namun akan lebih tajam bila disusun sebuah agenda yang sangat monumental dengan memanfaatkan hari anti korupsi yang jatuh pada tanggal 9 desember ini. Ya, harusnya ada yang lebih. Ada yang lebih tidak sekedar seremonial belaka.

Seperti kejadian lebih yang aku dapatkan setelah pulang dari mengikuti aksi hari ini. Kakiku remuk terkena pembatas rel kereta yang melaju dengan kencang. Kereta yang penuh sesak, memaksa aku duduk di pintu karena kelelahanku berdiri dan berteriak. Dan terpaksa harus digandeng untuk bisa jalan pulang ke rumah.

[Untuk membaca piagam gerakan Indonesia Bersih silahkan lihat di koran internet kesukaan masing-masing].

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar