Sociodistro

|


Alhamdulillah, terhitung tanggal 3 maret hingga 5 maret 2010, aku dan teman-teman yang tergabung di Sociodistro berhasil menembus terjalnya jalan yang menuju daerah Perkebunan Dewata Ciwidey, Kabupaten Bandung. Meski kami berjuang dengan menggunakan mobil yang tidak sepantasnya untuk digunakan melewati jalanan tersebut.

Malam sebelum kami berangkat, aku harus menemui jurnalis dari sebuah Tabloid Pe**** Usaha yang meminta waktu untuk wawancara. Padahal dalam pikiranku, wah salah ini jurnalis. Salah menurutku, karena merasa belum pantas masuk dalam pemberitaan-pemberitaan seperti ini. Aku tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan seperti kalangan pengusaha yang lain, punya materi berlimpah, kekayaan tercecer dan kartu atm yang banyak di dompet. Namun mungkin orang lain punya penilaian yang lain, maka akhirnya aku berbicara panjang lebar dalam wawancara yang “gayeng” dan penuh canda itu. Aku tidak berusaha menjawab semuanya dengan jujur, mungkin boleh dikatakan menjawab semua pertanyaan dengan sempalan bohong kiri kanan hehehe… (maaf ya Mas Ali).

Kemudian setelah wawancara selesai, maka kami pun berangkat dengan semangat meski sedikit mengantuk. Sekitar pukul 24.00 WIB, aku geber mobil menuju pintu jalan tol Tanjung Barat. Begitu dekat dengan pintu tol ternyata pintu lain sudah minta dimasukin, yaitu pintu perut yang menunggu makanan masuk. Maka aku ucap kepadanya “baiklah, kita makan dulu.. “. Dan tentu teman-teman pun melonjak kegirangan karena sudah sejak siang belum makan siang. Ya begitulah nasib kalau bepergian denganku, kata mereka. Kalau belum lapar benar belum bisa makan hehehe…

Akhirnya setelah makan, kembali aku geber mobil kencang-kencang dengan kecepatan 60 km/jam memasuki jalan tol dan terus lurus mengikuti arah rambu penunjuk arah menuju Bandung mantan lautan api. Sekitar pukul 6 pagi, kami keluar di pintu tol Kopo dan langsung menuju supermarket untuk belanja lagi. Sembari menunggu ada yang buka, kami pun mencoba menikmati kesibukan kota Bandung yang bersolek di pagi hari disertai derai tawa gadis cantik dan geram knalpot sepeda motor yang cemburu akan kemanisan para gadis itu. Aku menikmatinya dengan mengatur nafas agar tak jatuh jantungku, karena jantung hatiku sudah ada yang mengikat (lebay deh…).

Selesai berbelanja langsung pula kami menuju perkebunan Dewata Ciwidey yang (terjadi) terkena longsor tersebut. Tentu dengan kecepatan dibawah 60 km perjam, karena aku yang sangat taat aturan ini. Ketika memasuki jalan masuk ke kawasan perkebunan, barulah kami menyadari bahwa kami salah bawa mobil. Berkali-kali orang yang berpapasan dengan kami mengingatkannya, “wah bang, sulit medannya mending balik arah saja”, begitu kata mereka. Aku hanya bisa menjawab “tenang saja pak, nanti kan teman-teman bisa melanjutkannya dengan jalan kaki dan saya tidur”, ciri pemimpin yang hebat bukan?. Dan betul juga jalanannya begitu terjal, boleh dibilang sangat terjal untuk ukuran Mobil Sedan. Lihat gambar.

Berkali-kali aku dan Fitra harus turun untuk memastikan posisi ban yang benar agar bisa melewati lubang-lubang jalan atau pun batu yang menonjol keluar. Untungnya, aku ini driver off road yang sudah berpengalaman :D jadi bisa melewati semua jalanan yang terjal. Bahkan mobil kijang yang ada di belakang kami bisa tertinggal jauh. Dengan berjuang sekuat pikiran, alhamdulillah sampailah kami di lokasi pengungsian di sambut dengan hujan lebat yang sangat lebat. Dan dari dalam mobil hanya bisa melihat sejauh 5 meter di depan. Alhasil jendela kami buka semua hingga terjadilah peristiwa hujan-hujanan pakai mobil.

Di posko penerimaan bantuan, akhirnya kami serahkan beberapa bahan bantuan yang berbentuk kebutuhan untuk perempuan dan anak-anak. Beberapa bantuan yang dibawa adalah :

1. 2 Kardus sabun Detol isi 100 buah
2. 4 kardus isi susu Dancow @900gram
3. 3 bungkus pampers Mami Poko isi  @56
4. Satu kardus berisi campuran sikat gigi, pasta gigi, samphoo

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar