Sulang dari timur (bag pertama)

|


“Ayah, buku apa itu?”, tanya Joko. “Kamu harus simpan buku ini baik-baik, jangan sampai siapapun tahu…”, bisik ayah Joko. Seminggu kemudian Ayahnya mati tertembus peluru. Joko masih tak tahu apa yang terjadi, sampai saat usianya beranjak dewasa dan ditangannya tergenggam buku pemberian ayahnya. Tertulis disitu pengarangnya “Pramoedya……..”.

Darahnya bergejolak, jaman kebebasan berpendapat ternyata belum benar dilalui oleh ayahnya hingga sekarang. Dibukanya kembali kamar ayah ibunya yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi, dari bawah ranjang hingga atas lemari dicarinya sesuatu yang Joko sendiri tak tahu apa itu. Tanpa lelah terus dicarinya, bongkar sana bongkar sini. Sampai akhirnya duduk bersandar lemari di dekat ranjang, sesaat Joko menarik nafas panjang dan tidak dirasakannya kelelahan. “Pluk….” tiba-tiba didepannya jatuh segulungan kertas, secepatnya Joko membukanya. “Kudeta Soeharto pada….” Judul gulungan kertas yang langsung dilihatnya.

Joko berlari cepat meninggalkan kamar orang tuanya. Digenggamnya erat gulungan kertas kumal itu, dia berlari menuju pusat kota dimana ada bangunan tua peninggalan belanda bertuliskan Perpustakaan. Sepertinya dia tahu benar apa yang dicarinya, matanya memandang lurus menyilang ruangan perpustakaan. “Iya disana, aku pernah membacanya disana…”, bisik Joko. Bergegaslah dia menuju arah pandang matanya, “disini iya disini… Seharusnya disini, aku yakin ada disini..dulu disini”, matanya tiada henti melihat beberapa sab buku yang pernah tak sengaja kena senggol olehnya.

Bersambung..

Depok, 2010.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar